Sunday, November 23, 2014

Premium dan Pertamax? (Jilid 2)

Pengurangan subsidi pada BBM bersubsidi, premium, beberapa hari yang lalu cukup untuk membuat terapi kejut bagi bangsa kita. Dengan tegas dan tanpa kompromi Presiden kita tercinta menegaskan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi dari Rp 6500 menjadi Rp 8500 hanya sekitar 3 minggu setelah Beliau dilantik menjadi Presiden. Pro dan kontra mengenai keputusan ini pun terjadi dimana-mana.

Di tulisan ini, saya tidak akan bermaksud untuk membahas tentang keputusan yang sudah diambil untuk mengurangi subsidi BBM bersubsidi. Saya lebih tertarik untuk memberikan opini saya tentang kemungkinan kita untuk mengkonversi BBM yang bersubsidi, Premium, ke BBM yang non-subsidi, Pertamax dan Pertamax Plus. Sebenarnya tulisan yang sama pernah saya tulis 3 tahun yang lalu, ketika harga BBM bersubsidi, Premium, berkisar (kalo tidak salah) Rp 4500. Pada tulisan tersebut saya membahas secara detil bagaimana proses terjadinya pembakaran pada mesin 4 langkah (4 stroke engine) yang berbahan bakar bensin. Mohon maaf kalo penjelasan di tulisan itu ada yang agak membingungkan, maklum baru belajar nulis. hehe


Oke mari kita remind lagi inti (maksud) dari tulisan tersebut.

Pada intinya, mesin berbahan bakar bensin membutuhkan waktu pembakaran yang tepat agar dapat menghasilkan efisiensi yang maksimum, tenaga maksimum dengan konsumsi bahan bakar serendah mungkin. Pada mesin berbahan bakar bensin, waktu yang paling tepat baginya untuk meledak (terjadi pembakaran) adalah sesaat setelah percikan api dari busi dikeluarkan, yaitu ketika posisi piston berada pada Titik Mati Atas (TMA). Pada titik ini, tepat sebelum terjadi ledakan, tekanan yang terjadi dalam ruang bakar sangatlah tinggi. Pada saat itulah campuran udara dan bensin mengalami kompresi yang luar biasa tinggi. Percikan api kemudian dikeluarkan untuk meledakkan campuran udara dan bensin yang sudah berada pada tekanan tinggi tersebut. Alhasil ledakan yang terjadi akan mendorong piston yang kemudian digunakan untuk menggerakkan kendaraan kita.

Pada internal combustion engine, tekanan merupakan salah satu parameter yang utama. Tekanan pada ruang bakar juga berbanding lurus dengan temperatur dari campuran udara dan bensin pada ruang bakar itu pula. Keduanya saling terkait erat dan membentuk parameter penting dlm pembakaran di internal combustion engine. Oleh karena itu, pabrik pembuat mesin biasanya menyertakan di spesifikasi teknis tentang Rasio Kompresi pada mesin buatannya. Rasio Kompresi merupakan perbandingan tekanan yang terjadi di dalam ruang pembakaran pada posisi Titik Mati Atas (TMA) yang bertekanan maksimum, dengan tekanan yang terjadi pada Titik Mati Bawah (TMB) yang bertekanan minimum, ketika pembakaran belum terjadi. Dengan volume mesin yang sama, semakin tinggi rasio kompresi, semakin tinggi pula potensi tenaga yang bisa dihasilkan dibandingkan dengan mesin dengan rasio kompresi lebih rendah.

Negara kita tercinta melalui Pertamina bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan bahan bakar internal combustion engine tersebut. Pertamina memiliki bahan bakar bensin dalam tiga kelas, premium, pertamax dan pertamax plus. Perbedaan premium, pertamax, dan pertamax plus adalah pada nilai oktan mereka. Premium bernilai oktan 88, Pertamax bernilai oktan 92, dan Pertamax Plus bernilai oktan 95.


Pengaruh beda nilai oktan eta kumaha kang???

Pada sistem internal combustion engine, ada fenomena yang biasa terjadi yang disebut dengan self-ignition. Self-ignition merupakan fenomena terbakarnya campuran udara dan bensin di luar waktu pengapiannya. Self-ignition pada mesin berbahan bakar bensin dapat terjadi karena bensin dan udara sudah bercampur semenjak dimasukkan ke dalam ruang bakar. Pada internal combustion enginetekanan dan temperatur adalah faktor yang mampu menyebabkan self-ignition terjadi. Self-ignition ini sangat merugikan karena pembakaran terjadi di luar waktu yang diinginkan, akibatnya, kita tidak akan mendapatkan tenaga yang sebenarnya dari mesin dan tentunya akan lebih boros dalam konsumsi bahan bakar.

Nah disinilah, nilai oktan suatu bahan bakar berpengaruh penting. Nilai oktan mengurangi sifat self-ignition pada bahan bakar. Semakin tinggi nilai oktan suatu bensin (gasoline), akan semakin sulit untuk bensin tersebut terbakar sendiri. Karena penyebab utama self-ignition adalah tekanan dan temperatur dari mesin, sedangkan tekanan dan temperatur mesin erat kaitannya dengan rasio kompresi, maka nilai oktan pada bahan bakar juga sangat erat kaitannya dengan rasio kompresi yang digunakan pada mesin.

Berikut ini merupakan tabel hubungan rasio kompresi dan nilai oktan untuk mesin dengan karburator (bukan fuel injection) tanpa engine management *).

Rasio Kompresi
Nilai Oktan
Brake Thermal Efficiency
Rasio
Persyaratan
Full Throttle (%)
5 : 1
72
-
6 : 1
81
25
7 : 1
87
28
8 : 1
92
30
9 : 1
96
32
10 : 1
100
33
11 : 1
104
34
12 : 1
108
35
Sumber: http://www.faqs.org/faqs/autos/gasoline-faq/part3/section-1.html

*) Mungkin saja, rasio ini hubungan ini bisa sedikit berubah seiring dengan banyaknya teknologi kontrol elektronik yang diterapkan pada kendaraan-kendaraan baru sekarang ini.


Dari tabel di atas kita bisa lihat bahwa, penggunaan bensin tidak bisa sembarangan. Bensin dengan nilai oktan yang lebih tinggi, butuh rasio kompresi yang lebih tinggi pula. Penggunaan pertamax atau pertamax plus pada motor-motor tua (rasio kompresi rendah), justru akan membuat konsumsi bensin semakin boros dibandingkan dengan premium, begitu pula sebaliknya.

Namun demikian, sekarang ini, hampir semua kendaraan generasi baru di Indonesia memiliki rasio kompresi yang menengah ke atas, di atas 9 : 1. Artinya, sebenarnya kendaraan-kendaraan bermotor di Indonesia sudah di desain untuk menggunakan bensin dengan nilai oktan 92, pertamax. Ditambah lagi dengan sistem kontrol yang diterapkan pada sistem injeksi dan katup pada mesin, membuat penggunaan pertamax merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan performa yang maksimum dari kendaraan anda dengan konsumsi bensin yang minimum.

Berikut ini daftar rasio kompresi kendaraan di Indonesia. Mohon diingatkan jika ada kesalahan pada daftar rasio kompresi ini.



So, berdasarkan data rasio kompresi dari link ini, sebenarnya bensin yang cocok bagi kendaraan-kendaraan di Indonesia adalah pertamax, bukan lagi premium!


Tapi Pertamax mahal cuy! Gak disubsidi, gimana dong??

Eits nanti dulu!!! boleh kita bilang pertamax lebih mahal per liter nya tapi belum tentu untuk konsumsi rata-ratanya. Untuk kebanyakan kendaraan di Indonesia, konsumsi bahan bakar pertamax akan lebih irit dibandingkan dengan premium. Oleh karena itu, lebih baik kita menggunakan parameter kilometer/rupiah (jarak/uang) untuk membandingkan premium dan pertamax di kendaraan kita.

Dengan kondisi harga premium Rp 8500, selisih Rp 1500-2000 dengan pertamax, saat ini saya rasa nilai kilometer/rupiah pertamax akan sama dengan premium atau bahkan lebih tinggi terutama pada kendaraan dengan rasio kompresi yang lebih tinggi.

Nilai perbandingan kilometer/rupiah ini bisa kita uji sendiri kok. Silahkan isi bensin premium atau pertamax dengan harga tertentu pada kendaraan kita kemudian catat/foto kilometer yang tercatat pada Odometer kendaraan kita. Ketika kita akan mengisi bensin pada kesempatan berikutnya, catat/foto kembali kilometer yang diukur oleh Odometer kendaraan kita. Kemudian, isi kembali dengan bensin dengan jenis yang berbeda dan lakukan hal yang sama. Selama pengujian perbandingan dua bensin ini, usahakan medan yang ditempuh sama (misal: selalu di dalam kota) dan beban yang digunakan juga sama (misal: selalu sendiri, tidak boncengan). Nah dari aktivitas ini, kita bisa mendapatkan dua nilai kilometer/rupiah untuk premium dan pertamax.

Jikalau sekalipun hasil km/rupiah kendaraan kita antara pertamax dan premium, tapi di kasus ini kita mendapatkan performa yang lebih baik dari kendaraan kita. Kita juga menjaga mesin kita agar lebih awet karena mendapatkan bahan bakar yang lebih tepat. Bahkan yang lebih penting lagi, kita tidak mengambil hak yang seharusnya diperuntukkan untuk orang-orang yang lebih kesulitan ekonomi dibandingkan kita. Kita niatkan sedekah, insyaAllah.

Motor seperti ini paling mentok "cuma" menghabiskan 50 ribu premium untuk satu minggu aktivitasnya berjualan. Kalo kita?

Nek masalah macet piye mas??

Yap, bagaimanapun ini adalah solusi sementara, bukan sebuah solusi yg benar2 solutif. Karena pun dengan berpindah ke pertamax, masalah kemacetan parah di indonesia ini belum mendapatkan solusi yang tepat. Solusi yang terbaik bagi transportasi di Indonesia menurut saya adalah transportasi massal dengan jalur eksklusif (bukan basis jalan raya) yang bertenagakan listrik. Semoga saja dengan pengurangan subsidi yang katanya akan digunakan untuk membangun infrastruktur, salah satunya jalur transportasi massa yang eksklusif, adalah benar adanya.

Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan manfaat.

Kereta bawah tanah di Kota London, London Tube

Anw, jika rekan-rekan yang membaca artikel ini dan sudah membandingkan kilometer/rupiah pertamax dan premium dari kendarannya, mohon saya diberi informasi dan silahkan tinggal komen di bawah artikel ini. Atas kerjasama dan info yang diberikan saya sampaikan terimakasih.

4 comments:

  1. Nderek nyimak dan sedang ingin membuktikan, yan, km tau g, apakah benar spbu dengan kode angka ke-2 yg bernilai 1 (milik pertamina) lebih sehat campuran bbm-nya drpd spbu dengan kode angka ke-2 bernilai 4? dijogja sedikit sekali spbu yg berkode angka ke-2 bernilai 1... ak merasakan lebih awet klo beli bbm di spbu pertmina ini.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maturnuwun sudah sudi mampir mas Hatta.
      Terimakasih juga karena sudah mau berpartisipasi untuk pindah ke pertamax.

      Masalah SPBU, saya pernah denger masalah nomer di balik angka kedua di spbu pertamina ini. Cuma saya tidak punya info yang lebih jelas dan lengkap ttg isu ini.

      Untuk pengisian BBM:
      tips dari saya adalah ngisi bensin ketika pagi hari. Karena di pagi hari, temperatur tanah masih rendah, sehingga densitas dari bensin yang disimpan cenderung lebih tinggi dibandingkan di siang hari. Nah, karena ngukurnya spbu itu berdasarkan volum, maka dengan volum yang sama, kita bisa dapat massa bensin yang lebih besar dibandingkan dengan jika kita beli bensin di sore hari.

      Delete
    2. luar biasa...

      Delete
  2. Harus baca beberapa kali nih biar paham. Maklum, masih awam :D

    ReplyDelete