Sunday, January 4, 2015

Adnan Januzaj : Sekali Berarti, Kemudian Menepi

Sebagian besar pendukung Manchester United mungkin tanpa pikir panjang akan berkata musim 2013/2014 adalah musim yang layak dilupakan. Melihat hasil akhir klasemen liga Inggris dan beberapa rekor buruk yang dipecahkan selama musim tersebut, membuat DVD Season Review 2013/14 adalah barang yang sulit ditemui di rak koleksi DVD penggemar setia The Red Devils. Tetapi, tak semua pihak akan sependapat dengan hal itu, setidaknya mungkin Adnan Januzaj akan beranggapan lain.

Remaja kelahiran Brussels ini adalah salah satu tulang punggung Manchester United musim lalu di bawah arahan David Moyes. Mampu mengirim umpan dari sayap kiri juga handal menyisir dari sisi kanan menjadi modal utama remaja kelahiran 1995 tersebut dalam menembus persaingan posisi sayap United di musim pertamanya promosi ke tim utama.

Ya, musim 2013/14 seakan menjadi ajang untuk menasbihkan lahirnya seorang bakat baru di United. “Dibantu” keadaan United yang timpang pada musim tersebut, jersey United nomor 44 adalah simbol harapan untuk memecah kebuntuan dalam menjebol gawang lawan. Kemampuannya menyisir sayap lalu mengirim umpan (yang menjadi “kegemaran” United musim lalu), dapat dilihat di 27 pertandingan Premier League, yang berbuah 4 gol dan 4 assist. Jelas bukan hal yang buruk untuk suatu permulaan. Melihat statistik squawka.com di akhir musim, harapan publik Stretford End pun membumbung tinggi.  Adnan Januzaj adalah penawar luka akademi Carrington setelah semusim sebelumnya harus merelakan Paul Pogba hijrah ke Turin untuk kemudian cemerlang di sana.


Tak semua yang lebih baru itu lebih baik

Memasuki musim baru, United menunjuk Louis Van Gaal sebagai pelatih anyarnya. Nakhoda baru, dengan membawa gaya baru dalam bentuk taktik baru dengan sokongan pemain baru tersebut sangat diharapkan dapat mengembalikan kejayaan United seperti di era Sir Alex. Namun demikian, hal baru dan hal positif jelas bukanlah satu padanan kalimat. Setidaknya adalah Adnan Januzaj yang mungkin akan beranggapan begitu.

Setengah musim 2014/15 berjalan tampaknya peruntungan Adnan Januzaj tak sebaik musim sebelumnya. Lagi-lagi berkebalikan dengan nasib United secara keseluruhan yang perlahan justru mulai kembali ke zona 4 besar, kiprah Januzaj justru kembali ke bangku cadangan. Menit bermainnya semakin menyusut, diperburuk dengan penyakit yang hinggap di penghujung tahun ini membuat posisi sayap United lepas dari genggaman. Sering cederanya Di Maria pun tak jadi keuntungan baginya karena posisi sayap kiri akhirnya lebih sering diisi Ashley Young. Di kanan, Antonio Valencia menjadi pilihan utama Van Gaal selama Rafael berkutat dengan cedera paha. Januzaj baru kembali merumput saat United melawan Stoke, awal tahun ini sebagai pengganti di 27 menit akhir pertandingan, setelah dalam 6 gameweek sebelumnya, tak pernah ada jersey United nomor 11 di lapangan.

Kini Januzaj sudah kembali fit dan siap bersaing untuk satu posisi di starting line-up United di paruh kedua musim 2014/15 ini.  Namun, ada hal yang sangat membatasi karena United “hanya” tinggal berkompetisi di Premier League dan FA Cup. Lain cerita jika seandainya United tidak ditekuk secara memalukan oleh MK Dons di ajang Piala Liga Agustus lalu, mungkin Januzaj bisa mendapat menit bermain di ajang tersebut, mengingat rotasi tim yang perlu dilakukan.

Hal lain yang makin memperburuk keadaan adalah pola 3-5-2 yang sering dipakai Van Gaal mewajibkan pemain sayapnya untuk juga handal dalam bertahan. Sesuatu yang sedikit berbeda dengan pola musim lalu saat Januzaj gemilang di bawah asuhan Moyes, dimana saat ia melesat jauh ke depan, akan ada full back di belakangnya yang siap bertahan jika lawan melancarkan serangan balik. Disinilah letak kekurangan Januzaj dibandingkan Valencia ataupun Young, yang mulai terbiasa bermain dengan role tersebut. Fakta itulah yang ditunjukkan oleh statistik squawka.com


Dari perbandingan di atas, terlihat defence score, persentase keberhasilan duel udara dan take on Januzaj adalah yang kedua terendah dari semua sayap milik United. Hanya Angel Di Maria yang lebih rendah darinya dalam kemampuan bertahan, namun hal itu jelas ditutup oleh kemampuan menyerang sayap Argentina tersebut yang lebih baik dalam segala hal dibanding kompatriotnya. Masih berbekal statistik dari situs yang sama, terlihat attacking score, key passes, dan chances created Di Maria jauh melampaui 4 sayap United lainnya.


Sepertinya banyak hal yang saling mendukung untuk menghambat Januzaj di musim keduanya ini, seiring nomor punggungnya yang mengecil, jumlah penampilannya pun menyusut, assist dan gol nya di musim ini pun sama jumlahnya dengan gelar juara Premier League Liverpool dalam 20 tahun terakhir.

Menarik ditunggu apakah Januzaj mampu memperbaiki performa nya di sisa musim ini, atau bahkan mengulang prestasi gemilangnya di musim 2013/14, di mana statistik memberi bukti tak terbantahkan bahwa ganjaran Denzil Haroun Reserve Player of The Year 2013 tak salah diberikan pada Manchester’s new number 11.




No comments:

Post a Comment