Thursday, July 28, 2011

sepatu futsal itu...

Tiap kali pulang ke jogja, salah satu agenda yang tidak boleh saya lewatkan adalah bermain futsal. Karena bagi saya, futsal adalah salah satu cara yang paling efektif untuk dapat bercengkerama kembali dengan sobat-sobat lama. Terutama sobat-sobat di lingkungan rumah dan SMA, mereka lah yang paling sering mengajak saya bermain futsal setiap kali mengetahui bahwa saya sedang berada di Jogja.


Namun, saya punya kendala setiap kali bermain futsal di Jogja. Kendala saya saat bermain futsal di kota gudeg adalah saya tidak punya sepatu futsal (hahaha.jangan diketawain yaa). Tiap kali main futsal, saya selalu menggunakan sepatu lama saya (sepatu waktu SMA) yang sudah rusak. Akibatnya seringkali saya bermain tidak nyaman dan kurang maksimal. Karena dengan sepatu yang sudah tidak layak pakai, jangankan untuk menendang bola, untuk berlari saja sudah kesulitan. Namun keinginan untuk bermain dan bersua dengan sobat-sobat lama membuat perasaan tidak nyaman itu sesuatu yang tidak berarti.

Sebenarnya di kota Bandung, tempat saya banyak menghabiskan waktu, saya punya 1 pasang sepatu futsal. Sepatu ini sering saya gunakan, karena memang di kota ini saya sering bermain futsal. Terutama jika di kampus saya, ITB, sedang ada turnamen antar jurusan. Secara otomatis intensitas bermain futsal meningkat.

Salah seorang sobat dari jogja yang memiliki hobi sama dengan saya, selalu membawa sepatu futsal kesayangannya tiap kali dia pulang ke kota jogja. Dengan maksud agar dia bisa bermain dengan rekan lamanya, tanpa harus kebingungan mencari pinjaman sepatu futsal. Sangat berbeda dengan saya yang tidak penah mau untuk membawa sepatu futsal ke Jogja. Saya takut jika nanti saya lupa untuk membawanya kembali ke Bandung.

Karena akhir-akhir ini saya sering mendapatkan ‘dollar’ dari berbagai aktivitas saya (Alhamdulillah Ya Allah), saya memang berniat untuk membeli sepasang sepatu futsal lagi untuk aktivitas futsal saya di jogja. Namun karena memang kebutuhan yang lain cukup banyak, saya berpikir untuk menunda pembelian tersebut.

Beberapa saat setelah saya kembali ke Bandung lagi untuk mempersiapkan semester 7 ini, saya mendapatkan telepon dari ibunda tercinta tentang akan adanya kiriman paket untuk saya. Ibu bilang bahwa paket itu dari adek perempuan saya. Beliau juga bilang bahwa paket itu berisi sepatu.

Dalam hati saya berbisik, “wah kalau sepatu nya untuk kuliah saya sudah ada.”

Awalnya saya tidak begitu senang karena saya kira akan tidak sesuai dengan harapan. Namun akhirnya saya meyakinkan diri saya. Karena saya yakin adik perempuan saya sudah berkorban banyak untuk hadiah ini.

Pada akhirnya, paket yang diberitakan itu datang juga. Paket itu tidak dikirim melalui jasa, namun melalui sahabat adik saya yang juga kuliah di Bandung. Setelah saya menerima paket tersebut, dengan segera saya membuka paket itu. Dan setelah saya buka, benar bahwa itu adalah sepasang sepatu. Namun sepatu itu adalah sepatu futsal berwarna biru dengan corak hitam. Sesuatu yang tidak pernah saya perkirakan sebelumnya. Ternyata adik saya mengetahui apa yang saya inginkan! Didalam kotak sepatu tersebut juga terdapat pesan yang berbunyi seperti ini. 

To : Mas Rian
Thanks for always being someone who loves me no matter how good and bad I am
With very big love,

Intan Rizqi R

Saya terharu dan langsung mengirimkan pesan singkat kepada adik perempuan saya satu-satunya. itu. Ingin rasanya memeluk dan mencium keningnya. Namun sayang, kami berada di dua kota yang berbeda.

Terimakasih dek, terimakasih. Sungguh aku sangat menyayangimu. Doaku selalu mengiringimu. insyaAllah. Semoga aku bisa memaksimalkan waktu yang tersisa lebih banyak secara berkualitas bersamamu dan adik laki-laki kita, sebelum nantinya aku menikahi seorang muslimah lain.

No comments:

Post a Comment